Saturday, December 5, 2015

Sambutan RD. Martinus Hadiwijoyo

Hell-O! Kali ini saya akan membawakan sambutan dari pendiri THS - THM yakni Rm. Hadi yang kita cintai pada jubelium THS - THM yang ke-30. Selamat membaca!



Dalam Nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, serta dalam bimbingan Bunda Maria, aku mengucap syukur untuk penyertaanNya atas Tunggal Hati Seminari – Tunggal Hati Maria.
Gloria


Yang Mulia Para Bapak Uskup, yang saya kasihi para pastor/ biarawan/biarawati; serta adik- adikku anggota THS-THM yang saya banggakan. Rasa syukur kita hunjukkan kepada Bapa, Putera dan Roh Kudus serta Bunda Maria atas penyertaanNya sepanjang 30 tahun THS-THM berkarya bagi generasi muda menjadi kader Gereja dan Bangsa.

Perkenankan saya menceritakan sekilas sejarah THS-THH, bersama RD AG. Luhur Prihadi dan RD R. Heru Subyakto.

Pada awalnya adalah permintaan alm. J. Padmoseputro Pr, pembimbing Seminari Mertoyudan pada tahun 1983 kepada Fr. Martinus Hadiwijoyo untuk melatih para seminaris. Permintaan beliau sederhana, tapi sungguh menantang, yakni hendak membentuk seminaris yang tangguh, berani, rendah hati, dan siap utk karya misioner gereja dengan berlatih silat.
Karena saya sungguh menyadari tugas misioner itu tidak ringan, dan sabda Tuhan mengatakan :
"Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja- pekerja untuk tuaian itu." (Mat 9:37-38),
maka setelah diijinkan oleh Rektor Seminari Tinggi Kentungan, Rm. Theo Prayitna SJ, saya Fr. Martinus Hadiwijoyo menyatakan siap melatih.

Memang ada keraguan karena ijin yang diberikan oleh romo Rektor adalah melatih ke Seminari Mertoyudan hanya 1 (satu) bulan sekali. Bagaimana mungkin itu terjadi karena seorang pendekar hanya dapat dibentuk dalam waktu yang panjang dan proses mati raga yang keras.

Tetapi karena dorongan mas Hari Kushadiwijoyo (dokter) dan mbak Emmy Putraningrum (psikolog), maka saya diyakinkan bahwa itulah tugas Tuhan yang harus saya jalankan.

Ada beberapa tempat bersejarah yang menjadi awal mula Sejarah THS-THM:
Seminari Tinggi St. Paulus, Kentungan Yogyakarta; Seminari Menengah Mertoyudan Magelang; rumah klg. Mas Hari Kushadiwijoyo-mbak Emmy di Kaliurang dan di Kalasan, Yogyakarta. Kemudian berkembang di Paroki St. Fransiskus Xaverius Tanjung Priok dan Paroki St.
Bonaventura, Pulomas Jakarta. Tempat-tempat itu tersambung dalam lintasan sejarah THS- THM dan di tempat-tempat itu Tuhan berkarya, menjadikan THS-THM ada untuk kita semua.

Saya tidak pernah berpikir bahwa THS-THM akan bertumbuh sebesar ini. Saat ini tempat latihan sudah tersebar di tidak kurang dari 20 keuskupan, di Indonesia dan Timor Leste. Saya melihat adik-adik yang berlatih begitu semangat. Banyak variasi gerakan yang berkembang dengan bagus. Itu semua dihasilkan karena kegembiraan orang muda yang ingin berkarya.

Pada saat Ziarah Jakarta Larantuka di bulan Oktober 2015 kemarin, gairah adik-adik untuk mendukung begitu luar biasa. Sepanjang perjalanan mulai dari Bandung, hingga Bunda Maria ‘La Pieta’, disemayamkan kembali di gereja Kalvari, Lubang Buaya Jakarta, adik-adik menyiapkan, mengawal dan menyelesaikan seluruh prosesi. Ada optimisme khas anak muda yang tercermin dalam berkarya bagi kemuliaan Bunda Gereja.

Namun demikian kita semua juga faham bahwa ada keprihatinan yang besar menjelang Jubileum Tri Dasar Warsa ini. Ada gejala pembelokan arah yang menyadarkan kakak-kakak Dewan Pendiri untuk bersama-sama mengembalikan THS-THM kembali ke misi dan tata nilai yang semula. Misi dasar dan semangat persaudaraan yang menjadi ciri khas kita diuji oleh sekelompok adik-adik yang luntur pemahamannya. Ada sekelompok adik-adik yang sedang tergoda untuk membawa ke arah yang lain.

Tetapi dengan belajar kepada perjalanan Yesus, Sang Guru Sejati, kita tidak boleh terganggu apalagi menjadi khawatir. Untuk menebus kita semua, Yesus terlebih dulu dikhianati oleh

murid dekatnya. Dia dijual oleh Yudas Iskariot kepada kepada kaum Farisi seharga 30 keping uang perak (Matius 26:15). Jika Guru kita mengalami pengkhianatan seperti itu, selama berkarya bersama dalam THS-THM kita tidak akan terhindar dari tekanan seperti yang dialami Yesus. Justru kejadian ini harus menjadi tanda pengingat bahwa ada sisi yang harus diperbaiki. Ibaratnya seseorang yang sakit, kondisi tubuh yang demam itu menjadi tanda bahwa ada bagian tubuh yang sakit yang perlu mendapat perhatian.

Adik-adik-ku sekalian, Gereja terus bertumbuh. Santo Yohanes Paulus ke-2 menyadari benar bahwa pertumbuhan Gereja ditopang oleh orang muda. Karena itu di hari Minggu Palma bersamaan dengan PBB menetapkan tgl. 20 Desember 1985 sebagai tahun International World Youth Day, St. Yohanes Paulus ke-2 yang saat itu sebagai Sri Paus mengundang Orang Muda Katholik berperan menjadi penggerak Gereja Katholik. Undangan sudah dilayangkan dan terus akan didengungkan. Harapan yang ditumpangkan oleh Gereja dan Bangsa kita begitu besar. Karya misioner terbentang luas. Di mana kita mau berperan?

Gaya hidup ‘ingin cepat, mudah dan enak’ (hedonism) adalah tantangan terbesar. Kecanduan obat-obat psikotropika sudah terjadi di usia sangat muda, ‘genk motor’ yang bertindak kriminal, tawuran palajar, menggejala di banyak tempat. Ini adalah tanah misi dimana kita dapat berperan.

Beberapa waktu yang lalu kita diundang diajak oleh BNN untuk bergabung membangun gerakan anti narkoba. Banyak paroki meminta kita terlibat, supaya OMK memiliki banyak pilihan untuk berkumpul dan berbuat sesuatu yang baik. Banyak sekolah mengharapkan kita lebih intensif untuk mengisi ruang-ruang pembentukan yang tidak terjangkau oleh kurkulum baku yang ada.

‘Tanah misi’ untuk berkarya makin bertambah, namun banyak harapan itu belum dapat dipenuhi karena keterbatasan dalam banyak hal. Kakak-kakak Dewan Pendiri berupaya melakukan pemetaan sumber masalah, di antaranya adalah keuangan dan metode pelatihan. Akhirnya kita menyusun prioritas penanganan sebagai berikut.
  1. Membangun koperasi usaha, untuk membangun kemandirian ekonomi.
  2. Memperbaiki curriculum & syllabus,untuk memastikan spiritualitas iman Katholik dapat diinternalisasi para anggota.
  3. Memperbanyak pelatih, untuk memastikan pengembangan organisasi bisa berjalan dengan baik.
  4. Memperkuat basis-basis latihan di unit terkecil, untuk memastikan setiap unit berdaya tumbuh kembang.
  5. Memperkuat metode komunikasi, untuk memastikan organisasi bisa terkonsolidasi dengan baik.

Dalam masa retret antara 10 November 2015 s.d. 10 November 2016, kita akan membangun pondasi yang kuat untuk memulai 5 prioritas perbaikan ini. Kakak-kakak Dewan Pendiri akan memandu kita semua bergerak melakukan perbaikan bersama. Kita bersama akan terbagi dalam beberapa tim yang akan terlibat penuh, supaya suatu saat nanti kita dapat bersyukur bahwa: “ada jejak kita di bangunan THS-THM yang besar itu”. Sebagai sebuah perayaan, Jubileum ini akan kita tutup nanti di tgl. 10 November 2016 dengan napak tilas di Seminari Mertoyudan, Kaliurang, Parangtritis dan berdoa bersama di Sendang Sono. Semoga dengan perbaikan yang kita lakukan, THS-THM mampu melayani harapan Gereja dan Bangsa dengan lebih baik.

Supaya saat penutupan Jubileum semakin banyak yang bisa hadir, kita membuat ‘Gerakan Seribu”. Kita masing-masing akan menyumbang rp. 1.000,- (seribu rupiah) tiap minggu. Jumlah tersebut hanyalah sebagai patokan. Adik-adik dipersilakan melakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Hasilnya akan digunakan untuk membiayai acara dan membantu delegasi yang memerlukan bantuan untuk bisa hadir.

Yang Mulia Para bapak Uskup, para Biarawan/biarawati moderator, para kontributor, saya mengucap syukur dan berterimakasih untuk seluruh pendampingan dan dukungan sehingga THS-THM diperkenankan Allah Bapa merayakan ulang tahun yang ke-30. Adik-adik masih mengharapkan pendampingan untuk dapat lebih berkarya bagi Gereja dan Bangsa.

Adik-adik yang selama ini selalu berkarya, dari yang terlihat hingga yang tidak nampak, keberadaan adik-adik-lah yang mampu menghidupi THS-THM. Kakak-kakak Dewan Pendiri mengetahui dan sangat menghargai. Kesetiaan bersatu dan keteguhan untuk terus berkarya

pasti akan menghasilkan. Tidak selalu berwujud hasil materi, atau sanjungan, namun kebanggaan bahwa kita dapat mengambil bagian dalam karya Gereja dan Bangsa adalah hadiah yang tidak akan lekang dimakan waktu.

Para pendahulu kita bisa menjadi contoh. Romo Franciscus Georgius Josephus Van Lith SJ, Mgr. Albertus Soegijapranata SJ, bapak IJ Kasimo, Bung Karno, bung Hatta dan banyak pendahulu kita lain adalah contoh kader terbaik Gereja dan Bangsa. Hendaknya kita meneladan mereka menjadi Laskar Gereja dan Bangsa.

Selamat Ulang tahun dan selamat memasuki masa retret. Semoga Bapa, Putera, Roh Kudus serta Bunda Maria dan Para Kudus menyertai kita semua




bottom

No comments:

Post a Comment